Sabtu, 07 Maret 2009

Doa

Dalam level agnosticism gw termasuk yang masih percaya keberadaan Tuhan. Namun bukan tipikal "man made god" seperti tuhan kebanyakan agama (sorry).

Seorang yang heran akan ke-agnostic-an gw bertanya, "Apa gw masih berdoa?". Ya tentu saja. Hanya saja frekuensinya mungkin tidak sesering orang beragama yang berdoa tiap hari bahkan tiap jam.

Kenapa jarang?
Harus diketahui bahwa percaya Tuhan berarti gw percaya bahwa Tuhan menciptakan gw (Tapi gak tau apa lewat evolusi atau penciptaan langsung karena kedua teori itu masih lemah buat gw). Dan itu gw yang seutuhnya dengan tangan, kaki, otak, perasaan, dll.

Beberapa orang menganggap ini merupakan kesombongan bahwa gw gak mau berdoa karena gw bisa berusaha sendiri. Saat gw sakit gw gak akan berdoa jika masih bisa beli obat, bayar dokter, masuk rumah sakit. Tapi ya gw akan berdoa jika memang gw sudah divonis tidak tertolong oleh dokter manapun di dunia ataupun tidak memiliki kemampuan untuk berobat lebih baik lagi.

Gw gak akan berdoa dapat rejeki jika tangan, kaki, dan pikiran gw masih bisa digunakan untuk melakukan pekerjaan. Menurut gw kalau gw tiap sebentar doa minta ini itu cuma terkesan seperti anak manja yang merengek terus sama orang tua. Sorry tapi gw anak yang mandiri. Seriously, I stopped asking money from my mom when I got my first job and I was 17th.

Ya tentu saja loe orang boleh berdoa tiap hari, tiap detik kalau perlu. Itu khan urusan loe sama tuhan loe. Gw gak berminat ngurusin hubungan orang lain dengan tuhannya selama mereka juga gak banyak ngurusin kepercayaan gw.

Kalau orang berdoa dan berusaha, gw lebih suka berusaha dulu, berdoa kemudian.

The Death

Seorang pastor kepala paroki tertawa waktu gw bilang gw seorang agnostic. Waktu itu gw akan menentukan tanggal pernikahan gw dengan pasangan gw (she's Catholic). Dia bertanya tentang agama di KTP, gw bilang Katholik. Katanya Katholik tidak bisa seperti itu, gw bilang gw tau, ini hanya status.

Menurutnya penting bagi setiap manusia memiliki agama. Gw setuju, agama memang penting bagi orang-orang yang kurang becus mengatur diri mereka sendiri dan butuh motivasi surga dan ancaman neraka untuk berada dalam jalur. Gw punya logika dan empati untuk bertindak sementara surga dan neraka terlalu absurd untuk dipercaya. Tuhan? mengutip film Zeitgeist: "I don't know what God is but I know what He isn't".

Pastor juga bertanya, "Bagaimana kalau kamu mati nanti? Tanpa agama hanya akan merepotkan orang yang kamu tinggalkan. Nanti malah dibuang ke laut.". Jika memang mereka mau buang gw ke laut silakan saja, Gw toh udah mati. Malah bagus bisa jadi makanan ikan-ikan. Nanti ikannya udah besar ditangkap nelayan yang makan mereka juga (gw sih gak doyan ikan) ha..ha..ha.. :D

Well, gw gak sebodoh itu untuk nggak mewasiatkan proses pengurusan jenasah gw sewaktu gw masih hidup. Lagipula kematian hanya bagian dari proses kehidupan, tidak ada yang istimewa. Yang istimewa hanya bagaimana kita mengisi kehidupan.

Apakah kita mejadi orang yang berguna yang bisa menyenangkan orang-orang disekitar kita? Atau kita hanya bisa jadi teroris bom sana sini menebar ketakutan? Atau kita menjadi orang religius yang munafik dan mengharapkan pujian? Atau bahkan hari ini berdoa kemudian besok berbuat dosa?

Kalau nanti masuk neraka (Jika memang neraka itu ada) ya biar saja. Memangnya kalau gw beragama dan masuk neraka juga loe orang mau gantiin posisi gw? Jika beragama pun tidak 100% masuk surga buat apa? Dan menurut gw surga dan neraka itu urusan Tuhan, bukan urusan gw. Urusan gw cuma gimana menjalani kehidupan yang sebaik-baiknya.

Harusnya gw bertanya sama Pastor, "Gimana jika ternyata pastor yang masuk neraka?". Tapi sepertinya gw masih respek walaupun gw diketawain. Itulah bedanya kita, gw bisa senyum waktu loe orang ngetawain gw. Can you smile when I tell you that your god possibly doesn't exist?