Membantu Palestina
Karena kali ini Israel yang melancarkan serangan dengan berbagai alasan dan menewaskan banyak warga sipil Palestina, gw setuju bahwa kita harus membantu Palestina. Membantu layaknya kita membantu negara lain yang sedang dilanda musibah. Memberikan obat-obatan dan bantuan medis lainnya, memberikan dukungan moril bagi rakyat Palestina, tidak lupa tetap mengupayakan damai bagi kedua belah pihak.
Gw gak setuju apabila bantuan dilandasi oleh motivasi agama. Gw gak suka membantu Palestina dengan alasan persaudaraan sesama Muslim. Apa itu artinya kita tidak akan membantu negara lain yang bukan sepersaudaraan muslim?! Gw bakalan bilang : Fuck you and your fucking discrimination mind.
Jadi seandainya masih ada jatuh korban warga Israel karena serangan bom mobil, kita juga harus memberikan bantuan kepada Israel layaknya kita membantu Palestina. Setuju? (ha..ha..ha..) Kalo gak setuju tandanya loe penganut standar ganda...
Jihad!
Palestina adalah negara Islam dan sesama muslim harus membela. OK lha, itu hal yang loe percaya. Gw hormati itu. Jika memang siap berkorban nyawa demi saudara seiman, silakan berangkat ke Palestina. Loe urus sendiri paspornya, semua izinnya untuk berangkat ke Palestina. Urus sendiri? Ya iyalah! Siapa lagi yang ngurusin? Negara loe suruh nerbangin loe ke Palestina untuk jihad? Kebagusan amat loe make duit negara buat kepentingan loe dan keyakinan loe.
Dan jangan sekali-kali loe ngider komplek buat minta dana sumbangan buat nerbangin loe jihad ke Palestina. Kalo loe gak mampu jihad (termasuk di dalamnya gak mampu nerbangin diri loe ke Palestina) maka berhentilah berangan-angan membantu saudara sesama muslim dengan berjihad ke sana.
Jangan pula berjihad dengan ngebom negara loe sendiri (atau negara tetangga? si Noordin M Top orang Malay khan?!). Kalo gak mau agama loe dicap agama teroris sama orang.
Boikot produk Israel
Gw amat sangat setuju sekali, banget dah! Boikot aja semua produk Israel. Selama-lamanya kalo perlu, jangan cuma sekarang aja. Tapi... ada tapinya ni. Tapi pastiin loe mampu memproduksi barang pengganti dari apa yang loe boikot tersebut. Loe mau boikot KFC dan McD?! Silakan kalo loe bisa bikin industri lokal misalnya: Ayam Goreng Pak Blegug dengan mutu produk dan kualitas layanan setara KFC. Atau Burger Nak Enak yang setara rasa dan mutunya sama dengan McD.
Apalagi kalo loe sanggup bikin produk lokal penganti prosesor buatan Intel yang kualitasnya bisa nyamain tentu saja dengan harga sama. Jika kita sanggup membuat produk lokal yang menyaingi produk-produk buatan orang Israel ataupun orang Amerika sono, siapa yang butuh produk mereka?! Boikot aja! Kita gak perlu produk mereka kok. Kita mampu bikin sendiri produk yang setara.
Kalo kita gak mampu? Ya udah diem aja dech, gak usah banyak suara boikot-boikotan segala. Akui saja kita gak bisa apa-apa tanpa produk mereka. Jangan munafik mau boikot Israel dengan poster yang dirancang pake komputer berprosesor Intel.
Bakar bendera Israel dan Amerika, demo di kedubes Amerika, demo di bundaran HI, dan semua usaha bullshit lainnya harap ditinggalkan. Hanya menyebabkan macet dan tidak memberi hasil apa-apa kok. Loe pikir Amerika ngurusin loe? Loe pikir Israel menghentikan serangannya karena demo loe? Please dech ah.
Gw kepikiran ide bodoh: Kenapa nggak setiap orang yang bersimpati dengan Palestina mengadopsi 1 orang anak Palestina dan bawa ke Indonesia agar mereka terhindar dari kekejaman Israel? Lebih baik lagi kalo bisa menampung 1 keluarga Palestina di setiap rumah orang yang bersimpati dengan keadaan Palestina.
Orang Yahudi bilang: "Whoever saves one life, saves the world entire." (kurang lebih gitu dech, nonton aja Schindler's List (Mungkin sebaiknya si Oscar Schindler dulu gak nyelamatin Yahudi satupun, sekarang banyak yahudi jadi ada zionisme)).
Senin, 05 Januari 2009
Derita Si Pejalan Kaki
Ini adalah hal-hal yang membuat gw sebel banget jadi pejalan kaki di Padang, Sumatera Barat.
Trotoar jadi tempat parkir
Karena banyak toko memanfaatkan pelataran yang harusnya menjadi tempat parkir pengunjung tokonya sebagai tempat ekspansi barang dagangan, sehingga parkiran harus mundur alias di trotoar. Sejauh yang saya tahu, trotoar itu adalah tempat pejalan kaki. Mungkin definisinya sudah berubah sekarang karena pemko bahkan pemda juga menarik pajak dari parkir yang di trotoar tersebut.
Apa gw harus mengajukan keberatan gw kepada pemko Padang untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki? What? Heeellllloooo! You're living in Indonesia, dude! Indonesia! Hell yeah, Indonesia. (Bisakah anda berpura-pura mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat mambaca paragraf ini).
Sering hampir ketabrak mobil/ motor yang mau parkir ataupun keluar parkiran
Ya, yang markir mobil dan motornya di trotoar seperti yang gw bilang di atas. Mereka parkir di trotoar jadi gw harus mengalah mengambil badan jalan bahkan terkadang hampir sampai di tengah jalan karena parkiran penuh dan pinggir badan jalan juga diisi parkir kendaraan (hari-hari tertentu). Jadi hak gw untuk jalan ditempat yang seharusnya telah direnggut dan setelah gw mengalah pun gw juga mau ketabrak?! Fuck yeah, it's Indonesia, bangeeet dah!
Motor gak pake lampu
Logikanya mampu beli motor maka mampu beli lampu motor kalo rusak. Karena harga lampu kurang dari 1/100 harga motor dan gak sering rusak pula. Tapi sepertinya banyak motor sekarang yang (sengaja?) gak ngidupin lampu waktu malam. Jujur aja kalo punya nyali lebih gw mo ambil tongkat buat mukul kepala orang yang bawa motornya. Siapa tau aja pukulan gw menyadarkan otak bebalnya bahwa hal yang dia lakukan membahayakan pejalan kaki yang belum mampu beli motor seperti gw. Emosi boo..
Lampu motor dan mobil terlalu terang dan terlalu redup
Mau loe apa sih? Terlalu terang salah, redup juga salah? Terang maksudnya make lampu kabut buat jalanan di kota. Terlalu redup maksudnya sengaja melapisi lampu dengan stiker supaya redup. Dear yang pake lampu kabut di jalanan kota, mohon simpan lampu kabut anda untuk saat-saat yang diperlukan. Karena sangat menyilaukan, menganggu penglihatan, dan amat menjengkelkan bagi orang lain di arah depan. Semoga kemampuan anda membeli kendaraan bukan alasan bahwa kemampuan otak anda ternyata tidak mampu mendefinisikan apa yang dimaksud dengan "saat-saat lampu kabut diperlukan".
Gunakan lampu standar aja. Itu yang dibuatkan untuk anda sebagai default dari pabrik. Percayalah bahwa mereka di sana telah merancang fungsi lampu itu sedemikian rupa supaya berguna bagi anda dan juga orang lain di jalanan. Gw yakin bahwa mereka yang merancang sebuah kendaraan di pabrik adalah orang-orang yang pintar. Berhentilah berpikir bahwa anda lebih pintar dengan melakukan modifikasi yang merugikan orang lain. Termasuk modifikasi knalpot motor/ mobil karena knalpot standar sudah memenuhi uji polusi suara di pabriknya.
Klakson
Beberapa kali gw hampir ketabrak motor (terutama matic/ AT karena suaranya yang cukup halus). Begitu menoleh motornya udah hampir 1/2 meter dari gw, mana kenceng pula. Kenapa? KARENA MEREKA NGGAK BUNYIIN KLAKSON! Atau memang motor sekarang gak dilengkapi lagi dengan klakson sehingga orang gak bisa menggunakannya? Atau orang sekarang mampu beli motor tapi gak punya cukup otak untuk berkendaraan dengan baik?
Begini "Yth. Orang Yang Mampu Beli Kendaraan", anda mampu beli kendaraan tapi jangan berpikir bahwa jalan itu adalah milik anda semata-mata karena anda membayar pajak kendaraan dan pajak itu digunakan untuk membangun jalan (gw juga bayar pajak 10% tiap makan KFC kok). Ada aturan dalam berkendaraan, juga ada rambu-rambu lalu lintas yang harus anda patuhi. Gw mengerti bahwa tidak semua orang buat SIM mengikuti prosedur yang seharusnya karena kita sama-sama tinggal di Indonesia, namun kita semua memiliki otak untuk berpikir dan nurani untuk sedikit berempati. Jadi yah, sebagai manusia yang masih normal dan waras sebaiknya gunakanlah otak dan nurani tersebut. Gak susah toh?!
Berlaku juga buat gw pribadi agar berjalan kaki lebih hati-hati terhadap manusia abnormal dan kurang waras yang sedang berkendaraan.
Trotoar jadi tempat parkir
Karena banyak toko memanfaatkan pelataran yang harusnya menjadi tempat parkir pengunjung tokonya sebagai tempat ekspansi barang dagangan, sehingga parkiran harus mundur alias di trotoar. Sejauh yang saya tahu, trotoar itu adalah tempat pejalan kaki. Mungkin definisinya sudah berubah sekarang karena pemko bahkan pemda juga menarik pajak dari parkir yang di trotoar tersebut.
Apa gw harus mengajukan keberatan gw kepada pemko Padang untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki? What? Heeellllloooo! You're living in Indonesia, dude! Indonesia! Hell yeah, Indonesia. (Bisakah anda berpura-pura mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat mambaca paragraf ini).
Sering hampir ketabrak mobil/ motor yang mau parkir ataupun keluar parkiran
Ya, yang markir mobil dan motornya di trotoar seperti yang gw bilang di atas. Mereka parkir di trotoar jadi gw harus mengalah mengambil badan jalan bahkan terkadang hampir sampai di tengah jalan karena parkiran penuh dan pinggir badan jalan juga diisi parkir kendaraan (hari-hari tertentu). Jadi hak gw untuk jalan ditempat yang seharusnya telah direnggut dan setelah gw mengalah pun gw juga mau ketabrak?! Fuck yeah, it's Indonesia, bangeeet dah!
Motor gak pake lampu
Logikanya mampu beli motor maka mampu beli lampu motor kalo rusak. Karena harga lampu kurang dari 1/100 harga motor dan gak sering rusak pula. Tapi sepertinya banyak motor sekarang yang (sengaja?) gak ngidupin lampu waktu malam. Jujur aja kalo punya nyali lebih gw mo ambil tongkat buat mukul kepala orang yang bawa motornya. Siapa tau aja pukulan gw menyadarkan otak bebalnya bahwa hal yang dia lakukan membahayakan pejalan kaki yang belum mampu beli motor seperti gw. Emosi boo..
Lampu motor dan mobil terlalu terang dan terlalu redup
Mau loe apa sih? Terlalu terang salah, redup juga salah? Terang maksudnya make lampu kabut buat jalanan di kota. Terlalu redup maksudnya sengaja melapisi lampu dengan stiker supaya redup. Dear yang pake lampu kabut di jalanan kota, mohon simpan lampu kabut anda untuk saat-saat yang diperlukan. Karena sangat menyilaukan, menganggu penglihatan, dan amat menjengkelkan bagi orang lain di arah depan. Semoga kemampuan anda membeli kendaraan bukan alasan bahwa kemampuan otak anda ternyata tidak mampu mendefinisikan apa yang dimaksud dengan "saat-saat lampu kabut diperlukan".
Gunakan lampu standar aja. Itu yang dibuatkan untuk anda sebagai default dari pabrik. Percayalah bahwa mereka di sana telah merancang fungsi lampu itu sedemikian rupa supaya berguna bagi anda dan juga orang lain di jalanan. Gw yakin bahwa mereka yang merancang sebuah kendaraan di pabrik adalah orang-orang yang pintar. Berhentilah berpikir bahwa anda lebih pintar dengan melakukan modifikasi yang merugikan orang lain. Termasuk modifikasi knalpot motor/ mobil karena knalpot standar sudah memenuhi uji polusi suara di pabriknya.
Klakson
Beberapa kali gw hampir ketabrak motor (terutama matic/ AT karena suaranya yang cukup halus). Begitu menoleh motornya udah hampir 1/2 meter dari gw, mana kenceng pula. Kenapa? KARENA MEREKA NGGAK BUNYIIN KLAKSON! Atau memang motor sekarang gak dilengkapi lagi dengan klakson sehingga orang gak bisa menggunakannya? Atau orang sekarang mampu beli motor tapi gak punya cukup otak untuk berkendaraan dengan baik?
Begini "Yth. Orang Yang Mampu Beli Kendaraan", anda mampu beli kendaraan tapi jangan berpikir bahwa jalan itu adalah milik anda semata-mata karena anda membayar pajak kendaraan dan pajak itu digunakan untuk membangun jalan (gw juga bayar pajak 10% tiap makan KFC kok). Ada aturan dalam berkendaraan, juga ada rambu-rambu lalu lintas yang harus anda patuhi. Gw mengerti bahwa tidak semua orang buat SIM mengikuti prosedur yang seharusnya karena kita sama-sama tinggal di Indonesia, namun kita semua memiliki otak untuk berpikir dan nurani untuk sedikit berempati. Jadi yah, sebagai manusia yang masih normal dan waras sebaiknya gunakanlah otak dan nurani tersebut. Gak susah toh?!
Berlaku juga buat gw pribadi agar berjalan kaki lebih hati-hati terhadap manusia abnormal dan kurang waras yang sedang berkendaraan.
Kenapa Nggak Beli Motor?
Dari awal tinggal di Padang gw emang gak punya kendaraan. Jarak dekat jalan kaki aja, kalo jauh naik ya naik angkot. Soalnya waktu gw masih di Sungai Penuh dulu juga kebiasaannya jalan kaki ke mana-mana. Waktu itu memang belum jaman kreditan motor menjamur seperti sekarang. Juga memang pendapatan gak memungkinkan buat beli motor.
Jadi kenapa sekarang setelah pendapatan lebih besar juga tidak mampu beli motor?
Ya karena jalan kaki itu sehat (ha..ha..ha..) dan juga gw gak mau dituduh biang pemanasan global karena berpartisipasi dalam memperbanyak polusi udara. Tentu saja orang berhak menertawakan alasan gw yang memang klise, nggak banget, kesannya gimana gitu.
Tapi khan emang Indi Baren aja menyarankan untuk berjalan 10.000 langkah sehari?! Ya tandanya memang sehat. Dan gw ngetawain orang yang lain yang menanggap jalan 1 KM itu jauh. Tentang pemanasan global juga gw gak mengada-ngada khan?! Gw juga ngetawain orang yang sok go green lha, save the planet lha, dan segala upaya mengurangi pemanasan global lainnya jika toh mereka msh aja pake mobil/ motor pribadi ke mana-mana, pake AC dengan freon tinggi pula di mobil dan rumah, blom termasuk kebiasaan nggak mau memisahkan sampah rumah tangganya. So kayanya kalo buat saling ngetawain masih imbang score-nya.
Seriously, gw blom mau kredit motor karena penggunaan uang gw untuk transportasi masih jauh lebih menguntungkan menggunakan jasa angkot dibanding bayar kredit motor.
Mampu bayar kredit motor?
Mengikuti saran bonus majalah Intisari edisi Juli 2008 tentang keuangan keluarga, pengeluaran untuk hutang ataupun kredit tidak lebih dari 30% dari total pendapatan.
Tapi menurut gw pribadi sebaiknya tidak lebih dari 50% uang bersih di tangan. Bersih setelah dipotong pengeluaran lain seperti rumah, makan, tagihan listrik, air, internet, dll. Itu juga dengan syarat pembayaran Down Payment kredit > 30%. Jadi setelah kredit pun kita masih punya 50% bersih buat ditabung. Dan ternyata 50% uang bersih di tangan sekarang belum mencukupi bayar kredit.
Kenapa banyak banget aturan tetek bengek gitu sih?
Memang bener bahwa sekarang bisa beli motor hanya dengan DP < 20%. Tapi itu artinya kita akan terikat masa hutang yang lama. Semua aturan itu gunanya adalah supaya gw tidak terikat hutang yang bunganya gede dan masa hutang yang panjang. Buat gw hutang bukan soal seberapa besar/ banyak yang sanggup diambil tapi soal kemampuan membayar. Gw gak mau terjebak dalam dunia gaya hidup dan uang.
Idealis?
Gw banget!
Pertanyaan gw adalah apa mengendarai barang kreditan membuat anda merasa lebih beruntung dari gw? Semoga aja jawabannya positif. Susah kalo udah hutang masih pesimis pula (ha..ha..ha..).
Jadi kenapa sekarang setelah pendapatan lebih besar juga tidak mampu beli motor?
Ya karena jalan kaki itu sehat (ha..ha..ha..) dan juga gw gak mau dituduh biang pemanasan global karena berpartisipasi dalam memperbanyak polusi udara. Tentu saja orang berhak menertawakan alasan gw yang memang klise, nggak banget, kesannya gimana gitu.
Tapi khan emang Indi Baren aja menyarankan untuk berjalan 10.000 langkah sehari?! Ya tandanya memang sehat. Dan gw ngetawain orang yang lain yang menanggap jalan 1 KM itu jauh. Tentang pemanasan global juga gw gak mengada-ngada khan?! Gw juga ngetawain orang yang sok go green lha, save the planet lha, dan segala upaya mengurangi pemanasan global lainnya jika toh mereka msh aja pake mobil/ motor pribadi ke mana-mana, pake AC dengan freon tinggi pula di mobil dan rumah, blom termasuk kebiasaan nggak mau memisahkan sampah rumah tangganya. So kayanya kalo buat saling ngetawain masih imbang score-nya.
Seriously, gw blom mau kredit motor karena penggunaan uang gw untuk transportasi masih jauh lebih menguntungkan menggunakan jasa angkot dibanding bayar kredit motor.
Mampu bayar kredit motor?
Mengikuti saran bonus majalah Intisari edisi Juli 2008 tentang keuangan keluarga, pengeluaran untuk hutang ataupun kredit tidak lebih dari 30% dari total pendapatan.
Tapi menurut gw pribadi sebaiknya tidak lebih dari 50% uang bersih di tangan. Bersih setelah dipotong pengeluaran lain seperti rumah, makan, tagihan listrik, air, internet, dll. Itu juga dengan syarat pembayaran Down Payment kredit > 30%. Jadi setelah kredit pun kita masih punya 50% bersih buat ditabung. Dan ternyata 50% uang bersih di tangan sekarang belum mencukupi bayar kredit.
Kenapa banyak banget aturan tetek bengek gitu sih?
Memang bener bahwa sekarang bisa beli motor hanya dengan DP < 20%. Tapi itu artinya kita akan terikat masa hutang yang lama. Semua aturan itu gunanya adalah supaya gw tidak terikat hutang yang bunganya gede dan masa hutang yang panjang. Buat gw hutang bukan soal seberapa besar/ banyak yang sanggup diambil tapi soal kemampuan membayar. Gw gak mau terjebak dalam dunia gaya hidup dan uang.
Idealis?
Gw banget!
Pertanyaan gw adalah apa mengendarai barang kreditan membuat anda merasa lebih beruntung dari gw? Semoga aja jawabannya positif. Susah kalo udah hutang masih pesimis pula (ha..ha..ha..).
Langganan:
Postingan (Atom)